Menanti Senja di Teras Masjid

Ketika sore tiba dibulan Suci Ramadhan, orang-orang mulai memadati berbagai tempat yang dinilai nyaman dan tenang guna menanti tibanya waktu berbuka puasa. Namun ada juga yang hanya memilih menghabiskan waktu berkeliling kota atau kampung dengan kendaraan bermotor, sambil mencari takjil atau kue-mueh hidangan untuk berbuka puasa. Selebihnya, ada juga, khsususnya para ibu-ibu,  masih melakukan tradisi lama, yaitu sibuk berkutat di dapur, menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga. Semuanya menjadi nikmat menurut versi masing-masing. Karena kenikmatan itu sangat relatif, tergantung siapa dan bagaimana cara menilai serta dari sudut pandang apa kita menilainya.

Lain halnya pula dengan para jamaah Masjid Al-Jami’ Ranai. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan senjanya di Teras Masjid tertua di Kota Ranai itu. Masjid yang dibangun kurang lebih pada tahun 1908 tersebut, menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk para jamaahnya.

Tradisi menyiapkan hidangan berbuka puasa di masjid Al-Jami’ Ranai ini terbilang sudah berlangsung cukup lama. Berbagai macam hidangan kue dan minuman serta kelengkapan berbuka lainnya tersaji disana. Terkadang ada pula kalanya terhidang nasi kotak atau makanan berat lainnya, sadakoh masyarakat dan jamaah, melengkapi deretan takjil setiap harinya. Tak kurang dari 200 orang dan bahkan lebih jamaah setiap sorenya datang bertandang disana untuk berbuka puasa bersama.

Para Ta’mir berkisah, “Kurang lebih 15 tahun yang lalu, kami berinisiatif untuk mengumpulkan jamaah diwaktu Magrib pada bulan Ramadhan. Karena kecendrungan selama bulan Suci Ramadhan, banyak para jamaah dan bahkan para pengurus dan petugas yang enggan untuk datang ke Masjid melaksanakan Shalat Fardhu Magrib, dengan alasan untuk berbuka puasa di rumah, serta tidak memiliki cukup waktu untuk berjamaah di masjid. Betapa tidak, ikan bakar kerapu segar dan gulai ayam yang menggoda selera, sudah tersaji di meja makan. Tentu mereka lebih memilih untuk menikmati terlebih dahulu rezki Allah yang sudah tersedia.

Namun alasan itu tidak menyurutkan niat para Ta’mir Masjid AL-Jami’ ini untuk memakmurkan masjid para Datuk Kaya itu. Dimulai dari beberapa orang  Ta’mir dan Petugas berkumpul dan berbuka di Teras Masjid ini. Lalu kemudian mengajak jamaah yang lain untuk bersedakoh makanan ataupun juga uang.

Setiap malam sebelum melaksanakan Shalat Sunat Tarawih, Ketua Ta’mir menyampaikan himbauan itu kepada jamaah. Tong infaq pun dijalankan dan diberitahu bahwa uang yang terkumpul akan digunakan untuk keperluan puasa di masjid.

Hidangan berbuka tidak hanya disiapkan untuk para Ta’mir dan petugas, tetapi juga jamaah yang ingin berbuka bersama. Bahkan, para musafir atau jamah lain yang sedang dalam perjalanan dan singgah di masjid, diajak serta berbuka. Subhanallah, sungguh menyenangkan. Bukankah sebuah Hadist Rasullallah SWT, pernah mengingatkan kita semua, bahwa barang siapa yang menyiapkan hidangan berbuka untuk orang lain dibulan Ramadhan ini, maka Allah akan memberikan dia pahala, sama seperti pahala orang yang berpuasa itu. Sementara pahala orang yang berpuasa tadi tidak dikurangi sedikitpun. Subhanallah, Maha Besar Allah yang lagi Maha Kaya dan Maha Pemberi”.

Tak mudah mengubah sebuah kebiasaan. Ia memerlukan waktu, motivator dan juga sebuah keikhlasan. Mungkin banyak orang yang berkeinginan untuk berbuat baik dijalan Allah. Tetapi sepertinya mereka belum tahu atau bahkan mungkin tidak tahu bagaimana caranya untuk mulai melakukannya. Seakan-akan tidak ada tempat bagi mereka untuk berbuat baik.

Untuk itu diperlukan motivator atau penggerak. Karena tidak semua orang punya ide kreatif. Tidak banyak orang yang selalu berfikir kreatrif untuk sesuatu yang baru menuju sebuah kebaikan. Dan semuanya itu, baik jamaah maupun motivator ataupun penggerak, insya’allah akan mendapatkan imbalan pahal dari Allah SWT.

Sampai Rahadhan tahun 1440 H ini, sejak 15 tahun lalu, para Ta’mir tidak pernah merasa kekurangan makanan, dan bahkan juga uang. Dana yang terkumpul selalu berlebih dan sisanya dijadikan infak untuk masjid. Sementara kue atau hidangan lain yang lebih, dapat pula dibawa pulang oleh jamaah yang merasa memerlukannya. Sungguh luar biasa.

Ada kemeriahan dan kebersamaan yang tersirat dalam acara berbuka puasa bersama di Masjid Al-Jami’ ini. Betapa tidak, jamaah dari berbagai strata dan kelas sosial, dari anak-anak sampai orang tua, dari para pejabat sampai dengan para pekerja serabutan, duduk bersimpuh diatas karpet tipis yang digelar sepanjang Teras Masjid. Bercerita dan bersilaturahim, serta terkadang ditambah gurauan dan candaan ringan menghiasi waktu menjelang berbuka puasa tiba. Ceramah agama dan kumandang gema wahyu Illahi diperdengarkan melalui siaran RRI Ranai dan diperkuat melalalui pengeras suara masjid, sebagai penanda tibanya waktu berbuka. Namun ada juga yang duduk-duduk ditebing teras, sambil menikmati hilir mudik orang yang berlalu lalang di jalan raya. Ketika waktu berbuka tiba, semua saling memanggil dan mengingatkan untuk duduk bersama dan menikmati hidangan berbuka bersama pula. Sungguh menyenangkan bukan? Yang pasti, senja selama bulan Suci Ramadhan, dihabiskan di Teras Masjid.

Ketika kegiatan berbuka usai, azanpun dikumandangkan. Pada jamaah baik laki-laki maupun perempuan, bergegas memperbaharui wudhu, guna melaksanakan Shalat Fardhu Magrib. Luarbiasa nikmatnya.

(Author : Wan’s)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *