Gendrang Kehidupan Anggrek Alami Mulai Ditabuh

Warta Kota Srindit; Hijau nan membirunya hutan Gunung Ranai, ternyata tak hanya menyimpan berbagai ragam spesies kayu-kayuan ternama. Sebut saja misalnya Ulin, Kulim, Merbau, Balau, dan masih banyak lagi yang lain, tetapi juga ternyata menyimpan kehidupan aneka jenis Anggrek Alami yang memiliki keindahan dan kelebihan tersendiri serta kerap dicari-cari oleh para kolektor tanaman. Tak diduga dan tidak pula dinyana, ternyata, di lereng Gunung Ranai bagian Timur, tumbuh subur Anggrek Macan yang dalam bahasa latinnya disebut “Grammatophyllum Speciosus”. Anggrek yang juga sering diserbut dengan Anggrek tebu ini, karena memang batangnya mirip tumbuhan tebu tersebut, adalah Anggrek Raksasa (Giant Orchid), yang tumbuh di daerah dataran tinggi dan hidup diatas pohon, kurang lebih 11 m dari permukaan tanah. Menurut para peneliti, Anggrek Macan adalah anggrek jenis Epipit, alias tidak mengganggu nutrisi makanan tanaman lain (inang) dimana tempat dia tumbuh. Artinya Anggrek Macan tidak bahagia diatas penderitaan tanaman lain.

Lahan budidaya Anggrek Macan milik H. Mursidi Akti di kaki Gunung Ranai, Kecamatan Bunguran Timur

Menurut catatan Majalah Trubus Edisi Emas (Gold Edition), menyebutkan bahwa tanaman anggrek yang memiliki bobot hingga satu ton ini, pernah dipamerkan di Crystal Palace, London, Inggris pada tahun 1851, dan dinobatkan sebagai anggrek terbesar di dunia. Jadi sangatlah pantas bila Anggrek Macan ini selalu diburu oleh para hobiis.

Ir. Chairani Siregar, MSc, seorang peneliti anggrek dari Universitas Tanjungpura, Kalimantan Barat, menyebutkan bahwa Anggrek Macam atau Anggrek Tebu ditemukannya di Bukit Semungga, Kabupaten Melawi Kalimantan Barat akhir Agustus 2007. Menurutnya, tanaman anggrek yang berbunga kuning dan berbintik kecoklatan, murip bulu macan, jarang tumbuh di tanah. Tanaman ini berbunga 4 tahun sekali dan sekali berbunga memunculkan 3 – 4 tangkai. Sedangkan untuk satu tangkai bisa mencapai ratusan kuntum.

Lalu bagiaman dengan Anggrek Macan atau Anggrek Tebu (Grammatophylum Speciosus) yang ada di kawasan Gunung Ranai, Kecamatan Bunguran Timur? Apakah sedahsyat itu? Ternyata lebih dari apa yang kita duga.

Mursidi Akti adalah seorang penggila tanaman menemukan Anggrek Macam di lereng gunung Ranai belahan Timur, dengan ketinggian ± 200 m dpl, kini sedang membudidayakan Anggrek Macan tersebut, meskipun masih dalam skala kecil. Dan kini Anggrek Macan yang ditanam oleh Ketua Kelompok Tani Andalan Kabupaten Natuna itu sedang bersemi. Dengan bangga ia menceritakan :

“Kini gendrang kehidupan anggrek alami mulai ditabuh. Lonceng kematiannya seperti yang diberitakan oleh Majalah Trubus beberapa waktu lalu, insya’llah belum akan terjadi. Kini anggrek Macan atau Anggrek Tebu yang saya budidayakan mulai berbunga. Bila yang ditemukan di Bukit Semungga, Kabupaten Melawi, hanya mampu berbunga 1 kali dalam 4 tahun, Anggrek Macan kita berbunga 1 tahun sekali.

H. Mursidi Akti, Ketua Kelompok Tani Andalan Kabupaten Natuna, sang penggila tanaman alami dari Bunguran Timur

Anggrek Macan yang ditemukan dilereng Gunung Ranai Kecamatan Bunguran Timur memang memiliki kelebihan tersendri bila dibandingkan dengan Anggrek Macan yang pernah di temukan di daerah lain. Karena selain berbunga 1 kali dalam 1 tahun yaitu pada bulan Juli hingga September, anggrek ini juga mampu menghasilkan 11 tangkai bunga setiap satu rumpunnya. Dan setiap tangkai, menghasilkan 120 kuntum bunga anggrek yang menarik diandang mata”, terang H. Mursidi penuh kebanggaan dan kegembiraan.

Tentu kita berharap, upaya budidaya beraneka jenis tanaman alamai termasuk Anggrek Macan yang dilakukan oleh H. Mursidi Akti akan terus berkembang. Hingga kekhawatiran akan punahnya anggrek alami di negeri ini tidak pernah terjadi. Lebih jauh tentu kita juga berharap, agar tanaman Anggrek Macan atau Anggrek Tebu (Grammatophyllum Speciosus), dapat dijadikan sebagai salah satu ikon Kabupaten Natuna setelah hewan “Kekah” yang namanya kini sudah mulai menduia. Dan Masyarakat Bunguran Timur patut bersyukur, karena dua jenis mahluk tuhan tersebut, habitat kehidupannya, hanya ada di Bunguran Timur. (Wan’s,Warta Kota Srindit, 25/07/2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *