Perda Rumah Berciri Khas Melayu

Warta Kota Srindit; Setelah beberapa tahun berdiri sendiri menjadi sebuah Provinsi, akhirnya Provinsi Kepulauan Riau memiliki sebuah Peraturan Daerah tentang Rumah Berciri Khas Melayu. Perda dengan nomor registrasi 1 tahun 2019 itu, berkisah tentang bentuk fisik, azas, ruanglingkup, serta elemen bangunan yang harus dipenuhi oleh bangunan milik pemerintah, bangunan milik swasta dan juga masyarakat di Provinsi Kepulauan RIau.

Perda ini tak lain tak bukan bertujuan untuk menetapkan ciri khas bangunan melayu Provinsi Kepulauan Riau, sebagai tanda kaum berbangsa, berbudaya dan berpradaban tinggi. Hal tersebut diungkapkan oleh DR. Abdul Malik, tokoh dan budayawan melayu Kepulauan Riau, yang sekaligus didapuk sebagai narasumber pada kegiatan Sosialisasi Perda No 1 tahun 2019 tersebut, di Hotel Sahid Batam Center Rabu (27/11/2019).

 

Kegiatan sosialisasi yang berlangsung selama 2 hari itu, diikuti oleh utusan dari 7 kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. Untuk Kabupaten Natuna diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata H. Ardinansyah, dan tokoh masyarakat H. Ismail Sitam, H. Umar Natuna serta Camat Bunguran Timur, H. Wan Suhardi.

Menurut Abdul Malik, ada 13 elemen yang harus diperhatikan dalam bangunan berciri khas melayu. 13 elemen tersebut adalah nama bangunan, fasad bangunan, gubahan masa bangunan, parabung panjang, hirarki tata ruang bangunan, tongkat bangunan, tiang bangunan, tangga bangunan, dinding bangunan, pintu dan jendela, atap, tunjuk langit dan ornamen bagian-bagian bagunan.

“Untuk membdirikan rumah Melayu, tidaklah dipaksakan seluruh elemen harus kite buat. Tetapi setidaknye beberapa elemen penting harus ada. Misalnya, paling kurang rumah melayu harus pakai tongkat, dinding tegak dari papan, dan ada Tunjuk Langit atau Tujuk Alif serta ornamen ukuran yang berciri khas melayu itu, haruslah ada”, himbau Adul Malik, dalam pemaparannya.

“Hari ini kita sedih melihatnya, ketika orang masuk ke Provinsi Kepulauan Riau ini, tidak ada ciri khas melayu Kepulauan Riau ini yang tampak. Seolah-olah kita tak punya jati diri. Lihatlah pintu gerbang di bandara atau dipelabuhan, tak ada yang menggambarkan kemelayuan kita sebagai kaum yang memiliki peradaban yang tinggi. Belum lagi kalau kita masuk ke hotel-hotel, sama sekali tidak terlihat ciri khas melayu Kepulauan Riau itu. Jangankan itu, bangunan kantor pemerintah pun tidak menampakkan ciri khas tersebut. Malu kita”, keluh budayawan sekaligus pemikir melayu kandidat Profesor itu.

Diharapkan, melalui kegiatan sosialisasi tersebut, pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota, hendaknya dapat menyiapkan sedikit anggaran, untuk mengubah suai bangunan yang sudah ada, hingga beberapa elemen yang menampakkan ciri khas melayu itu akan terlihat. (Wan’s, Warta Kota Srindit, 30/11/2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *