Renungan Kekinian (Tenang Jik Yau) Pertempuran Takkan Pernah Ada

Warta Kota Srindit; Awal pagi 8 Januari 2020, kota Ranai Kecamatan Bunguran Timur Ibu Kota Kabupaten Natuna sudah diriuhkan oleh teriakan serine pasukan pengawalan. Tak tahu kemana arah tujuannya. Yang pasti kedatangan Presiden Joko Widodo yang ke 5 kalinya di Bumi “Laut Sakti Rantau Bertuah”, dijadwalkan baru akan tiba sekitar pukul 10.00 wib. Pasalnya pesawat kepresidenan “Indonesia One” baru akan tinggal landas dari Bandar Udara Halim Perdana Kusuma Jakarta, sekitar pukul 08.00 wib. Namun kesibukan para petugas, baik Paspanpres, maupun pasukan pengamanan lokal serta jajaran pemerintah daerah memang sudah mulai terjadi sejak issu konplik diperairan Laut Natuna Utara dihembuskan sejak seminggu terakhir ini.

Satu dari 6 KRI yang sandara di Pos Labuh Selat Lampa, Natuna

Enam Kapal Perang milik TNI Angkatan Laut, 4 pesawat tempur F 16 milik TNI AU, dan belasan Meriam berat milik TNI AD, disiagakan pada titik tempur masing-masing. Begitu juga dengan titik-titik pengamanan darat, sudah diisi oleh deretan pasukan pengamanan, baik dari TNI maupun Polri pada garis garda terdepan medan laga.

Memang sudah terlihat agak sedikit sibuk dan ramai. Namun lalu lalang masyarakat untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari, masih berjalan seperti biasa. Para petani cengkeh masih tetap sibuk dengan aktivitas memetik bunga cengkehnya, untuk selanjutnya diolah hingga kering dan dijual kepada para penampung. Begitu juga dengan para petani karet, kelapa, dan komoditi lainnya, masih tetap beraktivitas seperti biasa, merawat dan memetik hasil  jerih payah mereka, untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi para pegawai pemerintah, masih tetap sibuk dengan aktivitas rutin, menyelesaikan tugas-tugas yang telah diemban kepada mereka. Tidak tampak keresahan dan kegelisahan di sana.

Jet Tempur F 16 Falcon yang sedang melakukan pemantauan di langit Ranai, Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna

Hanya mungkin para nelayan saja yang agak sedikit terganggu untuk melaut. Itupun bukan terganggu karena adanya konplik di perairan Natuna, tetapi lebih disebabkan oleh hentakan gelombang musim Utara yang mencapai ketinggian 4 hingga 6 meter. Kondisi tersebut menjadi agenda tahunan masyarakat Natuna, sebagai anugrah cuti besar yang diberikan Allah Swt kepada para nelayan, hingga mereka patut beristirahat ketika musim utara tiba. Jadi bila ada nelayan Natuna yang mengaku tidak bernai melaut karena khawatir dengan akan adanya pertempuran di perairan Natuna, maka itu adalah alasan yang sangat mengada-ada.

Laut Natuna Utara yang di sengketakan

Namun berita dari berbagai media, baik media online maupun media mainstream menghadirkan informasi yang sangat berkecamuk. Seakan-akan perang akan terjadi dalam hitungan detik. Dan bahkan ada informasi dari media sosial yang menyatakan bahwa kontak tembak sudah pecah di Zona Ekonomi Exlusive Indonesia, tempat dimana yang selama ini dipertikaikan. Sesungguhnya semuanya itu berita bohong alias hoak.

Bagaimana tidak, para pasukan baik organik maupun cadangan masih berleha-leha kemana-mana. Ada yang ngopi bareng sambil menikmati keindahan Pantai Piwang di Kota Ranai. Para istri tentara masih dengan santainya beberbelanja kepasar, sambil menenteng tas belanjaan mereka. Ada pula para tentara yang sengaja menghabiskan waktunya selama di Natuna untuk berjalan-jalan mengelilingi spot-spot wisata yang kini seang dipromosikan. Sebut saja 8 Geosite Geopark Nasional  yang ada di Natuna dan kini sedang gencar-gencarnya diperkenalkan kepada masyarakat dunia melalui berbagai media. Bahkan ada pula yang sedang tertidur pulas dengan mimpi-mimpi indah, setelah lelah melaksanakan tugas rutinnya.

Presiden Joko Widodo sedang membagikan sertifikat tanah kepada 200 orang masyarakat Natuna dari 7000 orang yang akan menerima sertifikat, di Kantor Bupati Natuna

Ketika jarum jam hampir menunjukkan angka 10.30 wib 8 Januari 2020 itu, raungan serine Patwal Kepresidenan pun mulai memenuhi ruang udara Kota Ranai. Seorang kakek tua, renta lagi buta, tesentak dari tempat duduknya ketika sedang menikmati secangkir kopi disebuah warung kopi yang berada di pinggir poros jalan yang dilalui rombongan presiden. Lalu diapun bertanya kepada orang-orang yang juga ada disana. “Sudah tiba rombongan Presiden itu?” Salah seorang pengopi berat yang ada diwarung itupun menjawab singkat, “Sudah Tok”.

Kakek itu memang sudah sangat tua dan buta. Tapi urusan suara dan bunyi, dia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia masih bisa dengan sangat baik membedakan suara serine ambulan, serine mobil pemadam kebakaran, dan serine mobil polisi. Jangankan itu, membendakan suara suara pesawat pun dia mahir, hingga dia tahu jenis pesawat yang sedang melintas diatas pondok reotnya. Apatah lagu deru gemuruh pesawat tempur, dia dapat membedakan antara Sukoi SU 27, F 16 Falcon, atau Sky Hawk A 100 atau A 200. Apalagi kibasan baling-baling helikopter, dia dapat membedakan antara suara Puma atau Bell, dan bahkan suara Apache milik TNI Angkatan Darat itu. Mengapa begitu mahir, ya, karena dulu dia tidak buta. Dia adalah pembual hebat dengan wawasan yang mumpuni. Sejak dulu berbagai jenis pesawat dan helikopter itu sering berlalu lalang di ruang udara Natuna ini, khususnya di langit Ranai Bunguran Timur.  Dia adalah orang yang tak pernah kenal lelah mencari informasi. Sebelum buta, koran dan surat kabar adalah sarapan paginya, kini siaran radio menjadi handalannya.

Kapal Pengawas Perikanan Republik Indonesia pun ikut hadir di natuna

Selanjutnya kakek itu terus bertutur. “Perang itu tidak akan pernah terjadi. Mana mungkin akan perang, hubungan antara pak Jokowi dan Xi Jinping saat ini sedang mesra. Hubungan para petinggi negeri ini dengan petinggi negeri Tirai Bambu itu juga mesra. Duit orang Cina itu banyak di negara kita ini. Mau perang dari mana”’ jelas kakek itu seakan mengetahui semua persoalan yang tengah terjadi saat ini.

Kesiapan Armada Tempur laut dan Udara di Perairan Natuna

“Konplik itu hanya sebuah issu yang sengaja digoreng oleh pihak-pihak tertentu untuk keperluan tertentu yang tidak semua orang dapat memahaminya. Percayalah kepada ku, perang itu tidak akan pernah terjadi. Jadi kita tidak perlu risau dan gelisah terhadap berita yang mengisi berbagai ruang media itu. Aku memang tua dan buta, tapi pikiran dan perasaan ku tidak pernah tua dan tidak pernah buta”, tutup Si Kakek mengakhiri analisanya.

Ya, mudah-mudahan ramalan si Kakek tua ini benar adanya. Namun disisi lain, sebagai dampak dari kehadiran “Coast Guard China” di Zona Ekonomi Ekslusive laut Natuna Utara itu, sepertinya mengharuskan para petinggi negara berulang-alik ke Natuna. Setelah Presiden beserta beberapa orang menterinya, datang bertandang ke negeri  ‘Mutiara Hijau di Ujung Utara” itu, pada tanggal 8 Januari 2020, lalu kemudian 15 Januari 2020, menyusul rombongan Menkopulhutkam yang langsung dipimpin oleh Mahpud. MD beserta seluruh jajaran menteri dibawahnya, mengadakan peninjauan langsung ke laut Natuna yang sekaligus mengadakan Rapat Terbatas di atas KRI Semarang, serta kemudian bertemu dengan para nelayan di Natuna. Selanjutnya, menurut rencana, pada tanggal 23 Janurai ini, akan menyusul rombongan Menkomaritim yang akan dipimpin langsung oleh Luhut Binsar Panjaitan, beserta seluruh jajarannya, juga akan melakukan hal yang serupa di Natuna.

Lalu kira-kira apa topik penting yang dibahas dalam perbincangsan itu. kita tunggu saja kabar selanjutnya. Pastikan anda tetap berada dijalur www.kecbungtim.natunakab.go.id. (Wan’s , Warta Kota Srindit, 15/1/2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *